Kamis, 11 November 2021

Surat yang tak tersampaikan

Pukul 02.30 malam. Aku berjalan sendirian menyusuri jalan desa di kawasan Tulungrejo Pare menuju arah pulang ke kamar kos. Jalanan sangat sepi, angin malam yang lumayan kencang. Lampu-lampu jalan sedikit redup. Agak gelap. seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan disepanjang jalan. Mungkin karena ini sudah sangat larut malam. Semua orang tengah terlelap. Ditambah lagi malam ini sedikit gerimis, membuat pakaian ku semakin lama menjadi lembab dan menggigil. sebagai orang pendatang yang sedang menghabiskan waktu liburan kuliah ke kampung Inggris, Ini untuk pertama kalinya aku berjalan sendirian tengah malam di kampung orang, sehabis mengerjakan tugas Grammar bahasa Inggris di kosan teman. Padahal, tugasnya juga belum seratus persen rampung, tapi sudah lah.. Malam ini aku sangat lelah dan lapar. Aku bisa lanjutkan besok. Di tambah lagi aku tidak punya kendaraan untuk balik ke kosanku. Tukang ojek pengkolan, atau ojol pun tidak ada. Jadi terpaksa pulang hanya naik sendal. Jalan kaki gontai. Di tengah jalan, aku mendengar suara laju roda-roda tua menyusuri aspal dari arah belakang. Ketika aku menoleh kesana, ternyata ada tukang becak yang juga hendak melewati arah tujuan ku ke depan. Setibanya di sampingku, mas tukang becaknya mengayuh lambat dan menyapaku.. “Mau kemana mas?” tanya si Pak Becak dengan ramah dengan logat jawa yang kental. “mau ke arah timur pak, ke kosan saya di daerah brawijaya.” jawabku. “Kalau begitu ikut saya aja Mas. Saya juga mau pulang sekalian lewat arah Brawijaya.” si Pak becak menawariku dengan ramah. Berhubung karena ini tengah malam dan aku orang asing disini, tawaran pak becak ini tidak semerta langsung ku terima. Karena takutnya dia orang jahat. Ditambah lagi, aku belum pernah naik becak seumur hidupku. Tapi, setelah ku lihat-lihat dan berfikir sejenak bapak ini, dengan perawakan yang kurus dan tegak, berkumis tebal, memakai topi bekas yang bau matahari, kulit yang awalnya basah berkeringat kemudian kering akibat angin malam, dan basah lagi akibat gerimis. pakaian sederhana yang agak lusuh, Aku jadi kasihan dengan pak becak ini. sepertinya pak becak ini memang orang baik. Ia juga menyangkil se plastik gorengan di kemudi becak nya. Mungkin untuk bekal keluarganya di rumah. “Kalo mas tidak mau, juga tidak apa-apa. Oke, saya jalan duluan ya mas.” barangkali karena melihat ku yang berfikir lama mengkhawatirkan penampilannya, akhirnya dia hendak pergi meninggalkan ku. “Pak.. Sebentar.. Saya ikut..” akhirnya aku ikut juga. Daripada sendirian di jalan yang sepi. Gerimis. “Oh Njeh-njeh.. Monggo mas.” sahutnya. Ketika tubuhku sudah nyaman di jok becak yang dingin, pak becak meneduhiku dengan atap becak biar aku tidak kebasahan. Sejurus kemudian mengayuh pedalnya dan becak pun melaju menuju jalan Brawijaya. Tidak terlalu kencang juga tidak terlalu lambat. Ini adalah pengalaman pertamaku naik becak. “Baru kali ini saya liat ada kendaraan angkutan becak disekitar sini. Kenapa ga narik ojol saja pak?” aku mulai basa basi untuk menghabiskan waktu selama perjalanan. “Saya nda punya motor mas. Lagipula saya juga nda ngerti cara nya ikut ojol.” jawabnya polos. Aku bisa mengerti kenapa si pak becak bilang seperti itu. Dari raut wajahnya dia memang kolot teknologi. Jadi dia hanya bisa cari nafkah dari cara yang ia bisa aja. “Kalo narik becak gini. Biasanya dapat uang berapa pak?” “Ga mesti sih mas, kalo saat psbb kopit kayak gini biasanya hanya dapat sedikit. Orang-orang banyak yang naik angkot atau ojol.” “trus hasil uang yang bapak dapat dari narik becak, apa dapat mencukupi untuk nafkahi keluarga bapak?” “Insyaalloh mencukupi, lagipula di rumah cuma ada anak saya perempuan satu. Masih kecil. Jadi cukup untuk nafkahi kami berdua saja, mas”. Jawabnya sambil terengah-engah mengayuh pedal becak. “Lah, memang istri bapak kemana?” tanyaku penasaran. “Istri saya merantau ke Jakarta sama anak kedua saya. laki-laki, masih kecil juga. Umur 8 bulan.” “Jakarta nya dimana pak? Soalnya saya juga dari Jakarta.” “nda tau di Jakarta mana nya mas, saya cuma ngerti Istri saya sekarang di Jakarta. Dan sudah cukup lama dia disana. Sampai sekarang belum pulang-pulang. Kayaknya betah disana.” Suara pak becak semakin berat. sepertinya dia menahan sesuatu. Daripada pak becak berlarut-larut dalam kesedihan, lebih baik aku alihkan pembicaraan saja. “Pak, ngomong-ngomong saya lapar banget nih. Bapak tau ngga warung makan yang masih buka jam segini di sekitar sini?”. Tanyaku ke pak becak. mengalihkan pembicaraan. “Jam segini warung sudah nda ada yang buka mas. Semenjak ada psbb kopit, semua warung harus tutup di bawah jam 11 malam. Kalau mas mau, nanti mas makan di rumah saya aja. Mampir sebentar. Rumah saya nda jauh kok mas. Setelah itu nanti mas saya antar pulang.” “Waduh. Makasih banyak pak. Ga usah repot-repot.” “Nda apa-apa kok mas. Saya senang kalo ada tamu main ke rumah. Apalagi si Eneng, anak perempuan saya. Pasti dia senang betul.” Tak berapa lama, kami akhirnya singgah di rumah pak becak. Rumahnya berada di area pematang sawah, bentuknya seperti rumah-rumah desa pada umumnya. Lampunya masih pakai petromak, Minimalis. Sederhana. Sebagian besar menggunakan dinding jerami. Dan sepertinya tidak ada tanda-tanda listrik disini. Pak becak masih menggunakan cara tradisional rupanya. Di depan rumahnya terdapat pohon jambu dersono. diapit oleh sawah, dan gudang rongsok. “Mari mas, masuk.” sambil mengelap keringat, “Anggap saja rumah sendiri.” lanjut pak becak menyilahkanku masuk ke rumahnya. Karena masih menggunakan petromak, jadi rumahnya tidak terlalu terang. Di depan rumahnya terdapat plang “Warung Soto Pak kumis” sudah kusam dan tak terpakai lagi. Di pelataran depannya, agak luas sedikit. bau aroma kacang. Ada bangku-bangku panjang khas angkringan yang di susun dengan meja. Berdebu dan sudah lama terbengkalai. Disudut ruangan ada gerobak soto kecil yang dulu nya di pake untuk meracik masakan, tidak seperti yang lainnya yang berdebu dan kusam. Gerobak kecil itu lebih terawat dan bersih. Bahan-bahan, bumbu, dll masih terlihat baru. Di dalam panci itu berisi air soto yang masih hangat. Sepertinya Pak becak masih gunakan itu untuk masak sehari-hari. Seolah sudah dipersiapkan. Kemudian Pak becak bilang, “biasanya si Eneng masak soto sendirian ketika saya kerja. Jadi kompornya masih anget.” Ruang lusuh ini sedikit menarik kepenasarananku. aku pun bertanya. “Sebelumnya bapak buka usaha warung soto ya?” “Iya Mas”. Katanya, sambil mulai meracik soto. “semenjak kopit. Pelanggan saya semakin sedikit karna psbb. Akhirnya provit usaha saya turun. saya nda punya uang lagi untuk modal operasional warung saya. Sehingga terpaksa saya tutup warung, dan beralih narik becak untuk bertahan hidup.” lanjutnya sambil meracik masakan untukku di gerobak. Beberapa menit kemudian, pak becak memberiku soto yang siap saji. Dengan nafsu makan yang menggebu-gebu, dalam sekejap ku santap. Di tengah santap makan, aku tersadar ada kain batik penutup yang menutupi sudut ruangan lain. Disana, ada anak gadis sedang tertidur pulas sambil memeluk boneka beruang. “Itu anaknya pak?” tanyaku, “Iya mas. Namanya si Eneng. Setiap saya pulang kerja dia memang sudah tidur jam segini. Kadang, kalo saya pulang lebih awal.. Dia masih bangun dan makan gorengan yang saya bawa.” Karna malam sudah sangat larut, aku merasa kurang nyaman juga jika masih bertamu di rumah orang. Jadi setelah selesai makan soto. Aku berniat pamit pulang. Dan membayar soto serta ongkos becaknya. Tapi, pak Becak bilang.. “Bayar nya nanti saja, Mas”. Katanya. “Kalo mas mau cepat-cepat ingin pulang, mari saya antarkan.” lanjutnya. Sambil berbincang-bincang sedikit. Pak Becak pun mengantarkan ku pulang sampai depan kamar kosan. Sesampainya di depan kamar kos, aku membuka dompet bersiap untuk bayar, tapi ternyata bapak ini menolak lagi. Kemudian dia malah memberiku secarik amplop. “Mas ndak usah bayar, semuanya gratis. Tapi, saya mau minta tolong ke mas..” ujarnya. “minta tolong apa pak?” tanyaku penasaran. “Mas kan dari Jakarta. Kalau sewaktu-waktu mas balik ke Jakarta. Saya mohon titip ini ke Istri saya ya.” katanya, wajahnya berharap-harap. Sudah ku duga, bapak ini ternyata tidak semerta merta memberiku tumpangan dan makan gratis. “Loh, Jakarta kan luas Pak. Akan sangat sulit untuk mencari alamat Istri bapak. Saya juga tidak tau wajahnya seperti apa?”. “Mas. Tidak perlu khawatir, di dalam amplop itu sudah saya cantumkan alamat rumahnya di Jakarta. Saya juga tidak ingin memaksakan mas. Apabila Mas terlalu sibuk, tidak apa-apa kalo mas tidak sempat memberikan ini ke Istri saya.” “Okedeh kalau begitu. Nanti saya akan berusaha sampaikan ini ke Istri bapak. Tapi sebisa saya ya pak. Dan mohon maaf kalau nanti saya sampai nya agak telat atau bahkan tidak tersampaikan.” “Tidak apa-apa, Mas. Saya juga sudah sangat bersyukur kalo Mas bersedia sampaikan amplop ini.” * * * Esok paginya sebelum ku memulai aktifitas, aku sedikit penasaran tentang alamat di amplop ini. Jadi aku lihat-lihat sedikit untuk menerka dimana letaknya alamat si ibu ini di Jakarta. Namun, ternyata alamat ini membuatku gundah. Bagaimana bisa bapak Becak yang baru ku kenal semalam malah mengirim surat ke alamat ini? Dengan penasaran yang menggebu, aku pun membuka amplop itu. Dan ternyata isi nya terdapat secarik surat dan foto zaman dulu. Surat itu mengarah ke nama seseorang, ya nama seseorang. Ternyata isi surat ini semakin membuatku heran dan tak karuan. Pokoknya pagi ini aku harus datang lagi ke rumah pak Becak, aku harus bertemu dia dan mempertanyakan hal ini.. Ada apa sebenarnya dengan orang ini? Dengan mengendarai motor beat yang ku pinjam dari seorang kawan, aku menyusuri sendiri jejak-jejak tempat yang aku lalui dan ku singgahi semalam. ketika aku sudah sampai di lokasi yang semalam, sayangnya aku melihat banyak perbedaan. Aku yakin betul semalam aku ke tempat ini. Anehnya, aku tidak menemukan rumah pak Becak. Sama sekali. Aku mulai bertanya-tanya kebingungan, menggaruk-garuk kepala yang tak gatal keheranan. Apakah kejadian yang semalam hanya mimpi? Sangat tidak mungkin. Karena aku merasakan sendiri itu nyata. Buktinya kertas amplop yang semalam masih ada di genggamanku sekarang. Mana mungkin itu mimpi? Yang tersisa dari lokasi tadi malam, hanya pohon jambu dersono ini. Sedangkan rumah pak Becak benar-benar lenyap. Yang bisa aku lihat hanya sisa reruntuhannya saja. Seperti tembok runtuh yang tinggal setengah. Disaat itu juga, ada seseorang bapak-bapak parubaya yang tiba-tiba menghampiri ku dan bertanya, “Nyari siapa mas?” katanya. “Permisi, pak. Apa bapak tahu disini ada rumah pak tukang becak?” Si bapak itu terdiam sambil berfikir-fikir kemudian menjawab “Setau saya disini tidak ada rumah mas?” katanya. “Saya ingat betul, semalam saya di antar oleh tukang becak ke rumahnya. Persisnya disini. Dan rumahnya itu seperti warung soto gitu pak. Orang nya kumisan.” Bapak-bapak ini terdiam lagi. Berfikir. Lalu air wajahnya berubah dan berkata. “Iya, disini memang dulu pernah ada rumah tukang becak, namanya pak Karto. Ya, dia kumisan. orang-orang manggil dia Pak kumis. Kalau malam memang dia dagang soto. Tapi itu sudah lama sekali mas.” “Lah, sekarang orangnya kemana pak?” tanyaku semakin penasaran, sedikit menemukan titik terang. “Pak Karto sudah lama meninggal mas. 26 tahun yang lalu. Waktu itu rumahnya masih pakai petromak. Kemudian petromaknya jatuh, apinya menjulur kemana-mana dan rumahnya kebakaran. Di rumahnya waktu itu cuma ada Pak Karto dan anak perempuannya yang sedang tidur. Keduanya tewas atas kejadian itu. Sedangkan istri dan anak bungsunya sedang di Jakarta. Setelah istrinya tau tentang insiden itu, dia tidak pernah balik lagi kesini sampai sekarang”. Bapak parubaya itu menjelaskan sedikit gamblang. “Nah, bekas rumahnya disitu mas.” lanjutnya sambil menunjuk reruntuhan tembok yang ada didekat pohon jambu dersono. ‘Ya, semalam aku singgah tepat di tempat itu’, batinku. Apa yang tadi di jawab oleh bapak ini, benar-benar membuatku menjadi bingung antara percaya dan tidak percaya. Sebab, alamat amplop yang dimaksud oleh pak Becak ini adalah alamat rumah ibu ku di Jakarta. Isi amplop nya berisi sebuah foto keluarga kecil yang sedang duduk hangat bersama di ruang tamu. Di foto itu terlihat pak Becak duduk tegak, diapit oleh anak gadis kecil kira-kira berusia 7 tahun yaitu si Eneng, anaknya pak Becak yang ku lihat sedang tidur semalam. Kemudian duduk disampingnya Ibu ku yang sedang menggendong anak bayi kecil. Di foto itu ibuku masih terlihat muda, tertulis dibawahnya tanggal dan tahun foto itu di ambil, 27 tahun yang lalu. Tepat 7 bulan setelah aku lahir. Dan surat itu bertuliskan, “Untuk istri ku, Sulastri dan anak bungsu ku, Handoko yang ada diluar sana. Aku dan Eneng disini merindukan kalian. Kapan kalian bisa pulang kesini. Semoga kalian semua sehat-sehat disana.” Di surat itu dia menyebut Sulastri, nama Ibuku dan juga menyebut nama ku, Handoko. Memang, selama ini aku hanya hidup berdua dengan ibuku di Jakarta. Ibuku pernah bilang, kalau dia berasal dari kota lain dan merantau ke Jakarta. Sejak awal di Jakarta, ibuku bekerja sendiri sebagai pegawai bank untuk menghidupi ku. Dan seumur hidupku aku tidak mengenal sosok seorang ayah, bahkan kakak perempuan. Hidup kami cuma berdua di rumah. Setiap ku tanya ibu tentang dimana ayah, ibu cuma bilang ayah sedang pergi ke luar kota. Foto ini adalah foto kelurga ku yang pertama kali ku lihat. Apakah pak Becak itu ayahku, dan bayi yang di gendong itu adalah aku? Apakah pak Becak datang dari masa lalu menjelma menjadi makhluk lain hanya untuk menyapa ku, anaknya sendiri? Lalu kenapa selama ini Ibu menutup-nutupi ini semua dariku? Lalu apakah ini yang dimaksud dengan Surat yang tak tersampaikan.

Rabu, 04 November 2009

THE KING OF POP


Michael Jackson




Latar belakang
Nama lahir Michael Joseph Jackson
Lahir 29 Agustus 1958 (umur 51)
Gary, Indiana, Amerika Serikat
Wafat 25 Juni 2009, California, Los Angeles
Genre Pop, R&B, rock, soul
Pekerjaan Penyanyi, penulis lagu, produser rekaman, pengaransemen, penari, koreografer, aktor, pengusaha
Instrumen Vokal, multi-instrumentalis, Perkusi
Tahun aktif 1967–2009
Perusahaan rekaman Motown, Epic, Sony
Terkait
dengan
The Jackson 5 / The Jacksons
Situs web MichaelJackson.com

Michael Joseph Jackson (lahir di Gary, Indiana, Amerika Serikat, 29 Agustus 1958 – meninggal di California, Los Angeles, Amerika Serikat, 25 Juni 2009 pada umur 50 tahun)[1] adalah penyanyi dan penulis lagu dari Amerika Serikat. Ia terkenal sebagai "Raja Pop" dan mempopulerkan gerakan dansa "moonwalk" yang telah menjadi ciri khasnya. Albumnya yang dirilis pada tahun 1982, Thriller, adalah album terlaris di dunia, dengan penjualan melebihi 104 juta kopi di seluruh dunia. Ia mulai karir bernyanyi pada usia lima tahun sebagai anggota kelompok vokal keluarga Jackson (kelak menjadi The Jackson 5) sebelum meluncurkan album solo pertamanya Got to Be There pada tahun 1971. Sebagai anak ketujuh dari keluarga Jackson, dia membuat debut di musik profesional pada umur 11 tahun sebagai anggota dari Jackson 5.

Pada awal tahun 1980-an, dia menjadi figur yang sangat dominan dalam musik pop and musisi Afrika-Amerika pertama yang mempunyai crossover kuat di MTV. Popularitas dalam musiknya menanjak saat ditayangkan di MTV, antara lain "Beat It", "Billie Jean" dan Thriller dianggap telah mengubah video klip menjadi sebuah bentuk karya seni dan sebagai alat promosi untuk mempopulerkan sebuah channel tv. Video-video seperti "Black or White" dan "Scream" membuat Jackson menjadi andalan utama MTV pada tahun 1990-an. Lewat penampilan panggung dan video-video klipnya, Jackson mempopulerkan sejumlah teknik menari seperti robot dan moonwalk. Suara dan gaya vocal Jackson mempengaruhi dan diikuti oleh banyak penyanyi hip hop, pop dan R&B.

Penghargaan - penghargaan yang telah dia raih termasuk beberapa kali Guinness World Records—termasuk thriller sebagai album terlaris di dunia— 13 Grammy Awards, 13 buah single nomor 1 dalam solo karirnya dari musisi pria lainnya dalam Hot 100 era—dan penjualan 750 juta unit di seluruh dunia. Hidup Jackson sangat terkenal di seluruh dunia, didampingi dengan karirnya yang sangat sukses, membuatnya menjadi bagian dari kebudayaan pop selama 4 dekade. dalam beberapa tahun dia sering disebut-sebut sebagai salah satu pria paling terkenal di dunia.

Daftar isi

[sembunyikan]

[sunting] Kehidupan dan karir

[sunting] 1958—75: Masa kecil dan The Jackson 5

Michael Joseph Jackson lahir pada tanggal 29 Agustus 1958 di Gary, Indiana, sebuah daerah industri di pinggiran Chicago.[2] Ia adalah keturunan seorang Afrika-Amerika Joseph Walter "Joe" Jackson dan Katherine Esther Scruse.[2] Ia adalah anak ke-7 dari 9 bersaudara. Saudaranya antara lain Rebbie, Jackie, Tito, Jermaine, La Toya, Marlon, Randy, dan Janet.[2] Joseph Jackson pernah bermain di sebuah band R&B bernama The Falcons, bersama saudaranya Luther.

Jackson pernah menyatakan bahwa sejak kecil ia mengalami kekerasan dari ayahnya, baik secara fisik maupun mental, seperti latihan yang tak henti-henti, cambuk, dan memanggilnya dengan panggilan kasar. Namun demikian, ia juga mengakui bahwa kedisiplinan yang diterapkan ayahnya membawa pengaruh besar bagi kesuksesannya. [3][4] Marlon Jackson menceritakan, pernah dalam suatu perselisihan, Michael diangkat terbalik kemudian dipukuli di punggung dan pantatnya.[5] Pernah pula di suatu malam, ketika Michael sedang tidur, Joseph memanjat dari kamarnya ke pintu kamar Jackson. Dengan mengenakan topeng menakutkan, ia masuk ke kamar, berteriak keras menakut-nakuti Michael. Joseph mengatakan bahwa ia melakukan itu untuk mengajarkan anak-anaknya agar tidak membiarkan jendela kamar terbuka ketika tidur. Selama bertahun-tahun setelah peristiwa tersebut, Michael sering mengalami mimpi ia diculik dari kamarnya.[5] Pada tahun 2003, Joseph mengakui pernah mencambuk Michael ketika iamasih kecil.[6]

Jackson pertama kali membicarakan masalah kecilnya ketika ia diwawancara oleh Oprah Winfrey pada tahun 1993. Ketika itu ia juga berkata bahwa pada saat kecil, ia sering menangis kesepian dan terkadang muntah ketika melihat ayahnya.[7][8][9][10] Pada acara Living with Michael Jackson (2003), Michael terlihat menangis menutupi wajahnya ketika ia menceritakan tentang masa kecilnya.[5]

Jackson menampilkan bakat musiknya di usia belia ketika ia menyanyi di depan teman-teman sekelasnya pada resital Natal di usia lima tahun.[2] Pada tahun 1964, Michael dan Marlon bergabung dengan the Jackson Brothers—sebuah band yang didirikan oleh saudara-saudaranya: Jackie, Tito, dan Jermaine—sebagai musisi pendukung, Michael memainkan congas sementara Marlon tambourine. Beberapa lama kemudian, ia mulai mengambil peran sebagai penyanyi latar dan ikut menari. Dan akhirnya pada umur 8 tahun, ia dan Jermaine menjadi penyanyi utama, dan nama kelompok musik ini diganti menjadi The Jackson 5.[2] Band ini melakukan tur di bagian tengah Amerika Serikat secara ekstensif pada tahun 1966 hingga 1968. Pada tahun 1966, mereka memenangi beberapa acara pencari bakat tingkat lokal.

The Jackson 5 telah merekam berbagai lagu, termasuk "Big Boy", untuk label rekaman lokal Steelwotn di tahun 1967 dan menandatangani kontrak dnegan Motown Records di tahun 1968.[2] Majalah Rolling Stone ketika itu menggambarkan Michael sebagai "sebuah keajaiban" (prodigy) dengan "bakat musik yang luar biasa".[11] The Jackson 5 mulai masuk pada chart ketika empat single pertamanya ("I Want You Back", "ABC", "The Love You Save," dan "I'l Be There") menempati tangga pertama pada Billboard Hot 100.[2] Pada masa awal The Jackson 5, bagian relasi publik Mowton mengklaim bahwa Michael berumur 9 tahun, meskipun sebenarnya ia berumur 11 tahun ketika itu.[12] Mulai tahun 1972, Michael merilis empat album solo dengan Motwon, di antaranya Got to Be There dan Ben. Penjualan band ini menurun pada tahun 1973.[13]

[sunting] 1975—81: Pindah ke Epic dan Off the Wall

The Jackson 5 menandatangani kontrak baru dengan CBS Record pada bulan Juni 1975, dalam divisi Philadelphia International Records, yang kemudian diubah namanya menjadi Epic Records.[13] Nama grup ini pun diubah menjadi The Jacksons dan menghasilkan enam album antara tahun 1976 hingga 1984, di mana sebagian besar lagunya di tulis oleh Michael Jackson.[14] Hits yang dilahirkan oleh band ini antara lain "Shake Your Body (Down to the Ground)", "This Place Hotel" dan "Can You Feel It."[15] The Jackson juga memiliki acara TV sendiri di CBS, The Jacksons, yang mengudara dari tahun 1976 hingga 1977.

Pada tahun 1978, Jackson berperan sebagai Scarecrow pada film musikal The Wiz.[16] Musik dalam film ini diaransemen oleh Quincy Jones, yang kemudian menjalin kerjasama dengan Jackson untuk membuat album solonya, Off the Wall.[17]

Penulis lagu di album ini antara lain Jackson, Rod Temperton, Stevie Wonder, dan Paul McCartney. Dirilis pada tahun 1979, empat lagu dalam album ini menempati peringkat pertama tangga lagu di Amerika Serikat termasuk "Don't Stop 'Til You Get Enough" dan "Rock with You."[18] Off the Wall menempati peringkat ketiga dalam Billboard 200 dan terjual 7 juta kopi di Amerika Serikat dengan total penjualan di seluruh dunia mencapai lebih dari 20 juta kopi.[19][20]

Pada tahun 1980, Jackson memenangi tiga penghargaan di American Music Awards untuk penampilan solonya: Favorite Soul/R&B Album, Favorite Male Soul/R&B Artist, dan Favorite Soul/R&B Single untuk "Don't Stop 'Til You Get Enough".[18] Di tahun yang sama, ia juga memenangi Billboard Music Awards untuk kategori Top Black Artist dan Top Black Album serta sebuah Grammy Award untuk Best Male R&B Vocal Performance (untuk lagu "Don't Stop 'Till You Get Enough")[18] Meskipun sukses secara komersil, Jackson merasa Off the Wall belum memenuhi harapannya untuk menciptakan album yang luar biasa.[21] Pada tahun 1980, Jackson menjadi musisi dengan penerimaan royalti tertinggi di industri musik: 37% dari keuntungan album secara keseluruhan.[22]

[sunting] 1982—83: Thriller dan Motown 25

Pada tahun 1982, Epic merilis album kedua Jackson, Thriller. Kemunculan album ini dianggap sebagai puncak karir Jackson. Album kedua ini bertahan di 10 besar Billboard 200 selama 80 minggu berturut-turut. Tujuh lagu dari album ini secara bersamaan masuk dalam sepuluh besar Billboard Hot—100, tiga di antaranya "Billie Jean," "Beat It," dan "Wanna Be Startin' Somethin'."

Periode ini adalah periode yang luar biasa menguntungkan bagi Jackson. Melalui pengacaranya John Branca, Jackson berhasil mendapatkan royalti tertinggi dalam industri musik, sekitar $2 per album. Di saat yang sama, ia juga meraup keuntungan dari The Making of Michael Jackson's Thriller, sebuah film dokumenter yang dibuat oleh Jackson dan John Landis yang terjual lebih dari 350.000 kopi.[23]

Michael Jackson membawakan lagu "Billie Jean" dalam acara Motown 25: Yesterday, Today, Forever.

Pada 25 Maret 1983, Michael Jackson tampil live dalam acara televisi spesial Motown 25: Yesterday, Today, Forever. Pada acara inilah ia pertama kali menampilkan gerakan tari nya yang terkenal, moonwalk.[24] Penampilannya di acara ini ditonton oleh sekitar 47 juta orang, dan hanya dapat disamai oleh penampilan Elvis Presley dan The Beatles danam The Ed Sullivan Show. The New York Times menulis, "The moonwalk that he made famous is an apt metaphor for his dance style. How does he do it? As a technician, he is a great illusionist, a genuine mime. His ability to keep one leg straight as he glides while the other bends and seems to walk requires perfect timing." (Indonesia: "Moonwalk yang telah membuatnya terkenal adalah perubahan yang tepat dalam gaya menarinya. Bagaimana dia melakukannya? Sebagai seorang teknisi, ia adalah ilusionis yang hebat, badut (mime) yang sesungguhnya. Kemampuannya untuk membuat satu kaki lurus sambil menggesernya, sementara satu kaki lainnya menekuk, membuatnya terlihat berjalan, membutuhkan ketepatan waktu yang sempurna."[25]

[sunting] 1984–85: Pepsi, We Are the World, dan karir bisnis

Jackson mengalami kecelakaan pada 27 Januari 1984. Dalam proses pembuatan iklan Pepsi Cola di Shrine Auditoriam, Los Angeles, ia mengalami luka bakar tingkat dua di kulit kepalanya setelah rambutnya terbakar akibat sebuah kecelakaan. Kejadian ini segera menjadi perhatian publik dan mendatangkan banyak simpati.[26] Pepsi kemudian menyelesaikan tuntutan hukum di luar pengadilan. Untuk mengobati luka bakarnya ini, Jackson memberikan $1,5 juta kepada Brotman Medical Center di Culver City, California, sehingga rumah sakit itu dapat membeli peralatan penyembuhan luka bakar berteknologi paling tinggi ketika itu; Brotman kemudian mengubah nama kamar perawatan luka bakarnya menjadi "Michael Jackson Burn Center" untuk menghormati Jackson.[26] Setelah kejadian ini, Jackson mulai memperhatikan penampilan dan mengoperasi plastik hidungnya.[17]

Jackson di White House South Portico bersama Presiden Ronald Reagan dan ibu negara Nancy Reagan, 1984

Pada 14 Mei 1984, Jackson diundang ke White House untuk menerima penghargaan yang diberikan langsung oleh Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan. Penghargaan ini diberikan atas sumbangan Jackson untuk badan amal yang membantu orang untuk keluar dari ketergantungan alkohol dan penyalahgunaan narkoba.[27] Di tahun yang sama, ia memenangi 8 penghargaan pada Grammy Awards 1984. Di tahun ini pula ia menyelenggarakan tur bertajuk Victory Tour yang secara total ditonton oleh lebih dari 2 juta orang.[28] Ia mendonasikan $5 juta pendapatan dari Victory Tour untuk amal.[29]

Jackson, bersama Lionel Richie, juga membuat single "We Are the World" yang dirilis ke seluruh dunia untuk tujuan amal, yaitu membantu rakyat miskin di Afrika dan Amerika Serikat. Single ini dinyanyikan oleh 39 selebritis, termasuk Jackson. Single ini juga menjadi single dengan penjualan terbaik sepanjang masa, dengan total penjualan 20 juta kopi.[30]

Saat bekerja bersama Paul McCartney dalam dua hit singlenya, "The Girl Is Mine" dan "Say Say Say", keduanya mulai menjalin persahabatan dan saling mengunjungi satu sama lain. Pada suatu diskusi, McCartney menceritakan kepada Jackson bagaimana ia mendapatkan jutaan dolar dari katalog musik; ia mendapatkan sekitar $40 juta pertahun dari lagu yang dinyanyikan orang lain. Jackson pun tertarik dan mulai menjalani karir bisnisnya dengan membeli, menjual, dan mendistribusikan hak penerbitan dari banyak artis. Tak lama kemudian, ATV Songs—sebuah katalog musik yang berisi ribuan lagu, termasuk lagu-lagu besutan Lennon-McCartney yang ditulis antara tahun 1963 hingga 1973—mulai dijual.[31][32]

[sunting] 1986—87: Penampilan, tabloid, Bad, otobiografi, dan film

Jackson dua tahun setelah ia didiagnosis menderita vitiligo.

Selama masa mudanya, Jackson memiliki kulit coklat, namun sejak awal tahun 1980-an, kulitnya tampak semakin memutih. Perubahan warna kulit ini memancing pertanyaan media dan memunculkan rumor-rumor, di antaranya rumor yang mengatakan bahwa Jackson sengaja memutihkan kulitnya (bleaching)[7]. Menurut biografi yang ditulis oleh J. Randy Taraborrelli, pada tahun 1986, Jackson didiagnosis menderita vitiligo dan lupus; penyakit vitiligo membuat kulitnya terlihat putih di beberapa bagian. Kedua penyakit ini mengakibatkan Jackson sensitif terhadap sinar matahari. Perawatan yang diberikan kepada Jackson untuk penyakitnya tersebut turut mengakibatnya kulitnya semakin memutih.[33] Selain perubahan pada warna kulit, ia juga diketahui melakukan operasi plastik pada bagian hidung, jidat, bibir, dan tulang pipi.[34]

Berat badan Jackson turus drastis di awal tahun 1980-an. Hal ini disebabkan karena diet dan keinginan untuk mendapatkan "tubuh pedansa" ("dancer's body")[35] Beberapa saksi mengatakan bahwa seringkali Jackson merasa pusing dan menduga dirinya menderita anorexia nervosa; gejala medis kehilangan nafsu makan.[36] Beberapa ahli mengatakan bahwa Jackson menderita body dysmorphic disorder, kondisi psikologis di mana penderita merasa kurang suka dengan penampilannya.[33] Tahun 1986 ia mengoperasi lagi hidung dan dagunya.[17][37]

Selama tahun 80-an ini kisah Jackson semakin menjadi perhatian publik. Pada tahun 1986, The National Enquirer mempublikasikan beberapa foto yang menggambarkan Jackson sedang tidur di hyperbaric oxygen chamber, dan mengatakan bahwa Jackson tidur di situ untuk memperlambat proses penuaan.[38] Jackson membeli seekor simpanse bernama [[[Bubbles (simpanse)|Bubbles]] dari sebuah laboratorium, dan pada tahun 2003 ia mengklaim bahwa Bubbles bisa menggunakan toilet dan membersihkan kamarnya sendiri.[38] Jackson juga dikabarkan menawar tulang Joseph Merrick, si "Manusia Gajah", seharga $1 juta.[39] Laporan itu melekat dalam ingatan masyarakat, dan menginspirasi nama panggilan "Wacko Jacko" (Jacko Sinting), yang kemudian sering disingkat sebagai "Jacko" di headline tabloid. Seorang biografer pada tahun 2004 mengatakan bahwa rumor-rumor tersebut di ciptakan oleh bagian publikasi Jackson sendiri untuk tujuan promosi.[40]. Jackson mengatakan kepada reporter:

Mengapa Anda tidak melaporkan saja ke masyarakat bahwa saya adalah alien dari Mars. Bilang kepada masyarakat bahwa saya memakan ayam hidup-hidup, dan melakukan tarian voodoo di malam hari. Tentu masyarakat akan percaya dengan yang Anda katakan karena Anda adalah seorang reporter. Tetapi bila saya, Michael Jackson, yang mengatakan, "Saya adalah alien dari Mars, saya memakan ayam hidup-hidup, dan saya melakukan tarian voodoo di malam hari," masyarakat akan berkata, "Ya ampun, Michael Jackson sudah gila, dia hancur. Lebih baik kamu tidak mempercayai ucapannya."[41]
Jackson memakai jaket bergaya militer pada era Bad.

Pada tahun 1987, Jackson merilis album Bad, yang merupakan album pertamanya setelah vakum selama lima tahun.[42] Total penjualan album yang banyak ditunggu oleh penggemar ini tidak setinggi album Thriller, namun tetap saja dapat dianggap sukses secara komersil, serta berhasil menelurkan tujuh hit single di Amerika Serikat, lima di antaranya ("I Just Can't Stop Loving You", "Bad", "The Way You Make Me Feel", "Man in the Mirror" dan "Dirty Diana") pernah menempati peringkat satu daftar Billboard Hot 100, lebih banyak dari album-album lainnya.[43] Hingga tahun 2008, album ini telah terjual lebih dari 30 juta kopi di seluruh dunia.[44]

Pada thaun 1987, Jackson menyatakan diri keluar dari agama yang di anutnya, Saksi-saksi Jehovah, sebagai respon dari ketidaksetujuan agama tersebut terhadap video klip Thriller.[45] Pada tanggal 12 September, Jackson memulai Bad World Tour hingga tanggal 14 Januari 1989.[46] Di Jepang saja, tur ini berhasil menarik 570.000 penonton.[47] Ia juga memecahkan Guiness World Record ketika 504.000 orang menghadiri shownya di Wembley Stadium. Secara total, ia tampil di 123 konser, di hadapan 4,4 juta orang, dan memecahkan Guinness World Record lainnya ketika tur tersebut memberikan pendapatan senilai $125 juta. Selama perjalanannya, ia mengundak anak kecil yang berasal dari keluarga ekonomi lemah untuk menonton konsernya secara gratis, dan memberi donasi ke rumah sakit, yayasan yatim piatu, dan badan amal lainnya.[46]

[sunting] Kematian

Michael Jackson meninggal dunia di rumahnya di Los Angeles pada hari Kamis, 25 Juni 2009, Pukul 14:26 Waktu setempat. Ia tidak sadarkan diri setelah mengalami gagal jantung (cardiac arrest). Ia diduga mengalami gagal jantung sesaat setelah diberi suntikan demerol. Berita kematian Michael Jackson tersebar cepat di internet. Banyak situs web yang kewalahan menangani pengguna internet yang ingin mencari Informasi tentang kematian Jacko. Google sempat mengalami gangguan karena begitu banyaknya kata kunci "Michael Jackson" yang dimasukan. AOL Instant Messenger juga sempat mengalami gangguan selama 40 menit karena banyaknya pengguna yang menginformasikan kematian Jacko lewat AOL Instant Messenger.

[sunting] Diskografi