Kamis, 11 November 2021

Surat yang tak tersampaikan

Pukul 02.30 malam. Aku berjalan sendirian menyusuri jalan desa di kawasan Tulungrejo Pare menuju arah pulang ke kamar kos. Jalanan sangat sepi, angin malam yang lumayan kencang. Lampu-lampu jalan sedikit redup. Agak gelap. seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan disepanjang jalan. Mungkin karena ini sudah sangat larut malam. Semua orang tengah terlelap. Ditambah lagi malam ini sedikit gerimis, membuat pakaian ku semakin lama menjadi lembab dan menggigil. sebagai orang pendatang yang sedang menghabiskan waktu liburan kuliah ke kampung Inggris, Ini untuk pertama kalinya aku berjalan sendirian tengah malam di kampung orang, sehabis mengerjakan tugas Grammar bahasa Inggris di kosan teman. Padahal, tugasnya juga belum seratus persen rampung, tapi sudah lah.. Malam ini aku sangat lelah dan lapar. Aku bisa lanjutkan besok. Di tambah lagi aku tidak punya kendaraan untuk balik ke kosanku. Tukang ojek pengkolan, atau ojol pun tidak ada. Jadi terpaksa pulang hanya naik sendal. Jalan kaki gontai. Di tengah jalan, aku mendengar suara laju roda-roda tua menyusuri aspal dari arah belakang. Ketika aku menoleh kesana, ternyata ada tukang becak yang juga hendak melewati arah tujuan ku ke depan. Setibanya di sampingku, mas tukang becaknya mengayuh lambat dan menyapaku.. “Mau kemana mas?” tanya si Pak Becak dengan ramah dengan logat jawa yang kental. “mau ke arah timur pak, ke kosan saya di daerah brawijaya.” jawabku. “Kalau begitu ikut saya aja Mas. Saya juga mau pulang sekalian lewat arah Brawijaya.” si Pak becak menawariku dengan ramah. Berhubung karena ini tengah malam dan aku orang asing disini, tawaran pak becak ini tidak semerta langsung ku terima. Karena takutnya dia orang jahat. Ditambah lagi, aku belum pernah naik becak seumur hidupku. Tapi, setelah ku lihat-lihat dan berfikir sejenak bapak ini, dengan perawakan yang kurus dan tegak, berkumis tebal, memakai topi bekas yang bau matahari, kulit yang awalnya basah berkeringat kemudian kering akibat angin malam, dan basah lagi akibat gerimis. pakaian sederhana yang agak lusuh, Aku jadi kasihan dengan pak becak ini. sepertinya pak becak ini memang orang baik. Ia juga menyangkil se plastik gorengan di kemudi becak nya. Mungkin untuk bekal keluarganya di rumah. “Kalo mas tidak mau, juga tidak apa-apa. Oke, saya jalan duluan ya mas.” barangkali karena melihat ku yang berfikir lama mengkhawatirkan penampilannya, akhirnya dia hendak pergi meninggalkan ku. “Pak.. Sebentar.. Saya ikut..” akhirnya aku ikut juga. Daripada sendirian di jalan yang sepi. Gerimis. “Oh Njeh-njeh.. Monggo mas.” sahutnya. Ketika tubuhku sudah nyaman di jok becak yang dingin, pak becak meneduhiku dengan atap becak biar aku tidak kebasahan. Sejurus kemudian mengayuh pedalnya dan becak pun melaju menuju jalan Brawijaya. Tidak terlalu kencang juga tidak terlalu lambat. Ini adalah pengalaman pertamaku naik becak. “Baru kali ini saya liat ada kendaraan angkutan becak disekitar sini. Kenapa ga narik ojol saja pak?” aku mulai basa basi untuk menghabiskan waktu selama perjalanan. “Saya nda punya motor mas. Lagipula saya juga nda ngerti cara nya ikut ojol.” jawabnya polos. Aku bisa mengerti kenapa si pak becak bilang seperti itu. Dari raut wajahnya dia memang kolot teknologi. Jadi dia hanya bisa cari nafkah dari cara yang ia bisa aja. “Kalo narik becak gini. Biasanya dapat uang berapa pak?” “Ga mesti sih mas, kalo saat psbb kopit kayak gini biasanya hanya dapat sedikit. Orang-orang banyak yang naik angkot atau ojol.” “trus hasil uang yang bapak dapat dari narik becak, apa dapat mencukupi untuk nafkahi keluarga bapak?” “Insyaalloh mencukupi, lagipula di rumah cuma ada anak saya perempuan satu. Masih kecil. Jadi cukup untuk nafkahi kami berdua saja, mas”. Jawabnya sambil terengah-engah mengayuh pedal becak. “Lah, memang istri bapak kemana?” tanyaku penasaran. “Istri saya merantau ke Jakarta sama anak kedua saya. laki-laki, masih kecil juga. Umur 8 bulan.” “Jakarta nya dimana pak? Soalnya saya juga dari Jakarta.” “nda tau di Jakarta mana nya mas, saya cuma ngerti Istri saya sekarang di Jakarta. Dan sudah cukup lama dia disana. Sampai sekarang belum pulang-pulang. Kayaknya betah disana.” Suara pak becak semakin berat. sepertinya dia menahan sesuatu. Daripada pak becak berlarut-larut dalam kesedihan, lebih baik aku alihkan pembicaraan saja. “Pak, ngomong-ngomong saya lapar banget nih. Bapak tau ngga warung makan yang masih buka jam segini di sekitar sini?”. Tanyaku ke pak becak. mengalihkan pembicaraan. “Jam segini warung sudah nda ada yang buka mas. Semenjak ada psbb kopit, semua warung harus tutup di bawah jam 11 malam. Kalau mas mau, nanti mas makan di rumah saya aja. Mampir sebentar. Rumah saya nda jauh kok mas. Setelah itu nanti mas saya antar pulang.” “Waduh. Makasih banyak pak. Ga usah repot-repot.” “Nda apa-apa kok mas. Saya senang kalo ada tamu main ke rumah. Apalagi si Eneng, anak perempuan saya. Pasti dia senang betul.” Tak berapa lama, kami akhirnya singgah di rumah pak becak. Rumahnya berada di area pematang sawah, bentuknya seperti rumah-rumah desa pada umumnya. Lampunya masih pakai petromak, Minimalis. Sederhana. Sebagian besar menggunakan dinding jerami. Dan sepertinya tidak ada tanda-tanda listrik disini. Pak becak masih menggunakan cara tradisional rupanya. Di depan rumahnya terdapat pohon jambu dersono. diapit oleh sawah, dan gudang rongsok. “Mari mas, masuk.” sambil mengelap keringat, “Anggap saja rumah sendiri.” lanjut pak becak menyilahkanku masuk ke rumahnya. Karena masih menggunakan petromak, jadi rumahnya tidak terlalu terang. Di depan rumahnya terdapat plang “Warung Soto Pak kumis” sudah kusam dan tak terpakai lagi. Di pelataran depannya, agak luas sedikit. bau aroma kacang. Ada bangku-bangku panjang khas angkringan yang di susun dengan meja. Berdebu dan sudah lama terbengkalai. Disudut ruangan ada gerobak soto kecil yang dulu nya di pake untuk meracik masakan, tidak seperti yang lainnya yang berdebu dan kusam. Gerobak kecil itu lebih terawat dan bersih. Bahan-bahan, bumbu, dll masih terlihat baru. Di dalam panci itu berisi air soto yang masih hangat. Sepertinya Pak becak masih gunakan itu untuk masak sehari-hari. Seolah sudah dipersiapkan. Kemudian Pak becak bilang, “biasanya si Eneng masak soto sendirian ketika saya kerja. Jadi kompornya masih anget.” Ruang lusuh ini sedikit menarik kepenasarananku. aku pun bertanya. “Sebelumnya bapak buka usaha warung soto ya?” “Iya Mas”. Katanya, sambil mulai meracik soto. “semenjak kopit. Pelanggan saya semakin sedikit karna psbb. Akhirnya provit usaha saya turun. saya nda punya uang lagi untuk modal operasional warung saya. Sehingga terpaksa saya tutup warung, dan beralih narik becak untuk bertahan hidup.” lanjutnya sambil meracik masakan untukku di gerobak. Beberapa menit kemudian, pak becak memberiku soto yang siap saji. Dengan nafsu makan yang menggebu-gebu, dalam sekejap ku santap. Di tengah santap makan, aku tersadar ada kain batik penutup yang menutupi sudut ruangan lain. Disana, ada anak gadis sedang tertidur pulas sambil memeluk boneka beruang. “Itu anaknya pak?” tanyaku, “Iya mas. Namanya si Eneng. Setiap saya pulang kerja dia memang sudah tidur jam segini. Kadang, kalo saya pulang lebih awal.. Dia masih bangun dan makan gorengan yang saya bawa.” Karna malam sudah sangat larut, aku merasa kurang nyaman juga jika masih bertamu di rumah orang. Jadi setelah selesai makan soto. Aku berniat pamit pulang. Dan membayar soto serta ongkos becaknya. Tapi, pak Becak bilang.. “Bayar nya nanti saja, Mas”. Katanya. “Kalo mas mau cepat-cepat ingin pulang, mari saya antarkan.” lanjutnya. Sambil berbincang-bincang sedikit. Pak Becak pun mengantarkan ku pulang sampai depan kamar kosan. Sesampainya di depan kamar kos, aku membuka dompet bersiap untuk bayar, tapi ternyata bapak ini menolak lagi. Kemudian dia malah memberiku secarik amplop. “Mas ndak usah bayar, semuanya gratis. Tapi, saya mau minta tolong ke mas..” ujarnya. “minta tolong apa pak?” tanyaku penasaran. “Mas kan dari Jakarta. Kalau sewaktu-waktu mas balik ke Jakarta. Saya mohon titip ini ke Istri saya ya.” katanya, wajahnya berharap-harap. Sudah ku duga, bapak ini ternyata tidak semerta merta memberiku tumpangan dan makan gratis. “Loh, Jakarta kan luas Pak. Akan sangat sulit untuk mencari alamat Istri bapak. Saya juga tidak tau wajahnya seperti apa?”. “Mas. Tidak perlu khawatir, di dalam amplop itu sudah saya cantumkan alamat rumahnya di Jakarta. Saya juga tidak ingin memaksakan mas. Apabila Mas terlalu sibuk, tidak apa-apa kalo mas tidak sempat memberikan ini ke Istri saya.” “Okedeh kalau begitu. Nanti saya akan berusaha sampaikan ini ke Istri bapak. Tapi sebisa saya ya pak. Dan mohon maaf kalau nanti saya sampai nya agak telat atau bahkan tidak tersampaikan.” “Tidak apa-apa, Mas. Saya juga sudah sangat bersyukur kalo Mas bersedia sampaikan amplop ini.” * * * Esok paginya sebelum ku memulai aktifitas, aku sedikit penasaran tentang alamat di amplop ini. Jadi aku lihat-lihat sedikit untuk menerka dimana letaknya alamat si ibu ini di Jakarta. Namun, ternyata alamat ini membuatku gundah. Bagaimana bisa bapak Becak yang baru ku kenal semalam malah mengirim surat ke alamat ini? Dengan penasaran yang menggebu, aku pun membuka amplop itu. Dan ternyata isi nya terdapat secarik surat dan foto zaman dulu. Surat itu mengarah ke nama seseorang, ya nama seseorang. Ternyata isi surat ini semakin membuatku heran dan tak karuan. Pokoknya pagi ini aku harus datang lagi ke rumah pak Becak, aku harus bertemu dia dan mempertanyakan hal ini.. Ada apa sebenarnya dengan orang ini? Dengan mengendarai motor beat yang ku pinjam dari seorang kawan, aku menyusuri sendiri jejak-jejak tempat yang aku lalui dan ku singgahi semalam. ketika aku sudah sampai di lokasi yang semalam, sayangnya aku melihat banyak perbedaan. Aku yakin betul semalam aku ke tempat ini. Anehnya, aku tidak menemukan rumah pak Becak. Sama sekali. Aku mulai bertanya-tanya kebingungan, menggaruk-garuk kepala yang tak gatal keheranan. Apakah kejadian yang semalam hanya mimpi? Sangat tidak mungkin. Karena aku merasakan sendiri itu nyata. Buktinya kertas amplop yang semalam masih ada di genggamanku sekarang. Mana mungkin itu mimpi? Yang tersisa dari lokasi tadi malam, hanya pohon jambu dersono ini. Sedangkan rumah pak Becak benar-benar lenyap. Yang bisa aku lihat hanya sisa reruntuhannya saja. Seperti tembok runtuh yang tinggal setengah. Disaat itu juga, ada seseorang bapak-bapak parubaya yang tiba-tiba menghampiri ku dan bertanya, “Nyari siapa mas?” katanya. “Permisi, pak. Apa bapak tahu disini ada rumah pak tukang becak?” Si bapak itu terdiam sambil berfikir-fikir kemudian menjawab “Setau saya disini tidak ada rumah mas?” katanya. “Saya ingat betul, semalam saya di antar oleh tukang becak ke rumahnya. Persisnya disini. Dan rumahnya itu seperti warung soto gitu pak. Orang nya kumisan.” Bapak-bapak ini terdiam lagi. Berfikir. Lalu air wajahnya berubah dan berkata. “Iya, disini memang dulu pernah ada rumah tukang becak, namanya pak Karto. Ya, dia kumisan. orang-orang manggil dia Pak kumis. Kalau malam memang dia dagang soto. Tapi itu sudah lama sekali mas.” “Lah, sekarang orangnya kemana pak?” tanyaku semakin penasaran, sedikit menemukan titik terang. “Pak Karto sudah lama meninggal mas. 26 tahun yang lalu. Waktu itu rumahnya masih pakai petromak. Kemudian petromaknya jatuh, apinya menjulur kemana-mana dan rumahnya kebakaran. Di rumahnya waktu itu cuma ada Pak Karto dan anak perempuannya yang sedang tidur. Keduanya tewas atas kejadian itu. Sedangkan istri dan anak bungsunya sedang di Jakarta. Setelah istrinya tau tentang insiden itu, dia tidak pernah balik lagi kesini sampai sekarang”. Bapak parubaya itu menjelaskan sedikit gamblang. “Nah, bekas rumahnya disitu mas.” lanjutnya sambil menunjuk reruntuhan tembok yang ada didekat pohon jambu dersono. ‘Ya, semalam aku singgah tepat di tempat itu’, batinku. Apa yang tadi di jawab oleh bapak ini, benar-benar membuatku menjadi bingung antara percaya dan tidak percaya. Sebab, alamat amplop yang dimaksud oleh pak Becak ini adalah alamat rumah ibu ku di Jakarta. Isi amplop nya berisi sebuah foto keluarga kecil yang sedang duduk hangat bersama di ruang tamu. Di foto itu terlihat pak Becak duduk tegak, diapit oleh anak gadis kecil kira-kira berusia 7 tahun yaitu si Eneng, anaknya pak Becak yang ku lihat sedang tidur semalam. Kemudian duduk disampingnya Ibu ku yang sedang menggendong anak bayi kecil. Di foto itu ibuku masih terlihat muda, tertulis dibawahnya tanggal dan tahun foto itu di ambil, 27 tahun yang lalu. Tepat 7 bulan setelah aku lahir. Dan surat itu bertuliskan, “Untuk istri ku, Sulastri dan anak bungsu ku, Handoko yang ada diluar sana. Aku dan Eneng disini merindukan kalian. Kapan kalian bisa pulang kesini. Semoga kalian semua sehat-sehat disana.” Di surat itu dia menyebut Sulastri, nama Ibuku dan juga menyebut nama ku, Handoko. Memang, selama ini aku hanya hidup berdua dengan ibuku di Jakarta. Ibuku pernah bilang, kalau dia berasal dari kota lain dan merantau ke Jakarta. Sejak awal di Jakarta, ibuku bekerja sendiri sebagai pegawai bank untuk menghidupi ku. Dan seumur hidupku aku tidak mengenal sosok seorang ayah, bahkan kakak perempuan. Hidup kami cuma berdua di rumah. Setiap ku tanya ibu tentang dimana ayah, ibu cuma bilang ayah sedang pergi ke luar kota. Foto ini adalah foto kelurga ku yang pertama kali ku lihat. Apakah pak Becak itu ayahku, dan bayi yang di gendong itu adalah aku? Apakah pak Becak datang dari masa lalu menjelma menjadi makhluk lain hanya untuk menyapa ku, anaknya sendiri? Lalu kenapa selama ini Ibu menutup-nutupi ini semua dariku? Lalu apakah ini yang dimaksud dengan Surat yang tak tersampaikan.